Kamis, 09 Februari 2012

VOKASIONAL


TUGAS VOKASIONAL
Perbandingan Pendidikan Vokasi
antara Indonesia dengan Singapore


BAB I
PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang

Pendidikan keterampilan, atau yang disebut pendidikan vokasi (vokasional), saat ini menjadi alternatif pembelajaran yang diyakini mampu menjadi solusi dalam mengurangi jumlah pengangguran. Hal itu disebabkan, konsep pendidikan yang lebih menitikberatkan pada keterampilan (skill), dirancang dengan kurikulum yang mengasah keterampilan, disiplin, dan konsep pesertanya tentang pekerjaan dan kewirausahaan. Di samping keuntungan lain, yaitu alternatif pembiayaan dan jangka waktu pendidikan yang relatif lebih cepat dan murah, jika dibandingkan kuliah di Strata 1. Lulusannya diarahkan untuk mengisi lowongan pekerjaan di berbagai bidang usaha, tingkatan  menengah (level admisnistrasi, staf, atau supervisor), yang pada kenyataannya memiliki jumlah lebih besar/kemungkinan lapangan pekerjaan yang lebih banyak, ketimbang level atas yaitu posisi para Manajer, dan Dewan Direksi.
Dalam situasi sekarang ini, biaya pendidikan yang bertambah besar (berkali-kali lipat) memang menjadi masalah utama bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi. Belum lagi ketika mereka lulus nanti, tidak ada jaminan untuk anaknya bisa langsung bekerja, karena misalnya, kompetensi yang dimiliki si anak dianggap belum memadai, perlu untuk dilatih lagi. Atau, terkadang masih memerlukan pendidikan khusus dari asosiasi profesi yang bersangkutan, untuk menjalankan pekerjaan tertentu sebelum ia dapat bekerja. Misalnya saja Sarjana Hukum, Sarjana Farmasi, atau Sarjana yang lain, harus lulus pendidikan profesi dulu sebelum menjalankan profesinya.
Program pendidikan vokasional,  diharapkan dapat menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan dunia kerja dan kebutuhan pasar. Lulusannya harus siap pakai. Kualifikasi lulusan pendidikan vokasi dapat diperhitungkan di pasaran, bahkan untuk jenis pekerjaan tertentu (adm di bank, misalnya) lulusan pendidikan vokasi bisa bersaing dengan lulusan dari S1, dan diterima. Pendapat bahwa gelar akademik sarjana dipandang lebih berharga dibandingkan gelar Ahli Madya, sudah mengakar dalam budaya masyarakat. Ini sudah saatnya diubah.
Perbedaan utama antara pendidikan akademik dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

     B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian pendidikan Vokasi ?
2.    Perbedaan antara pendidikan liberal dan vokasional ?
3.    Bagaimana perbandingan sistem pendidikan vokasi di Indonesia dengan Singapore ?

    C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengertian dari pendidikan vokasi.
2.    Untuk mengetahui perbedaan pendidikan akademik dengan pendidikan vokasi.
3.    Untuk mengetahui perbandingan sistem pendidikan vokasi di negara Indonesia dengan negara Singapore.



BAB II
PEMBAHASAN

Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Kelebihan pendidikan vokasional ini, antara lain, peserta didik secara langsung dapat mengembangkan keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang tugas yang akan dihadapinya.
Pendidikan kecakapan hidup merupakan isu sentral dalam pelayanan pendidikan. Hal tersebut merupakan jembatan penghubung antara penyiapan peserta didik di lembaga pendidikan dengan masyarakat dan dunia kerja.
Pembekalan kecakapan hidup secara khusus menjadi muatan kurikulum dalam bentuk pelajaran keterampilan fungsional dan kepribadian profesional. Disamping pembekalan kecakapan hidup melalui mata pelajaran iptek dengan pendekatan tematik, induktif, dan berorientasi kebutuhan masyarakat di wilayahnya.
Kecakapan hidup adalah berbagai jenis keterampilan yang memampukan remaja-remaja menjadi anggota masyarakat yang aktif, produktif dan tangguh. Departemen Pendidikan Nasional mengkategorikan keterampilan-keterampilan ini menjadi empat kelompok yaitu akademik, personal, sosial dan vokasional.
Pendidikan vokasi adalah pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu, yang mencakup program pendidikan diploma 1, diploma 2, diploma 3, dan diploma 4, maksimal setara dengan program pendidikan sarjana. Lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan gelar vokasi.
Dikotomi antara pendidikan liberal dan pendidikan vokasi atau education for life dan education for earning living selalu menjadi bahan diskusi yang sangat menarik. Menjadi bahan diskusi yang menarik karena kedua jenis pendidikan ini tidak bisa dipisahkan secara tegas (Finch & Crunkilton). Dapat kami contohkan seperti selembar uang kertas yang memiliki dua sisi berbeda. Menerawang satu sisi memunculkan bayangan disisi sebaliknya. Dibulak-balik tetap harus berdampingan sebagai alat bayar yang sah. Jika hanya ada satu sisi maka uang itu tidak sah lagi sebagai alat bayar. Demikian juga dengan pendidikan vokasi dan pendidikan liberal/umum tidak bisa dinihilkan salah satunya.

A.       Perbedaan Pendidikan Liberal dan Pendidikan Vokasi
Paradigma pendidikan liberal tidak bisa lepas dari akar filosofisnya yaitu positivisme. Konsep pendidikan liberal ialah pandangan yang mengedepankan aspek pengembangan potensi, perlindungan hak-hak dan kebebasan (freedom). Paham individualistik sangat kuat mempengaruhi paradigma pendidikan liberal. Pendidikan liberal menekankan pada pemberdayaan individu.
Sedangkan paradigma pendidikan vokasi sangat berbeda yaitu menekankan pada pendidikan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar (demand driven). Kebersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan penyelenggara pendidikan dan kecocokan (match) diantara employee dengan employer menjadi dasar penyelenggaraan dan ukuran keberhasilan pendidikan vokasi. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dari tingkat mutu dan relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan dengan bidang keahlian yang dipilih dan ditekuninya. Pendidikan vokasi melayani sistim ekonomi, sistim sosial, dan politik.

B.       Pendidikan Vokasi di Indonesia
Pendidikan vokasional yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup merupakan bisnis inti dari pendidikan nonformal. Penanaman penguasaan keterampilan vokasional memacu kreativitas dan mengembangkan pemahaman peran individu dalam kehidupan sosial. Pendidikan vokasional di Indonesia adalah seluruh pendidikan vokasional yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Kemdiknas), dahulu bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Depdikbud). Di Indonesia semua penduduk wajib mengikuti pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun di sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah.
Dunia pendidikan Indonesia terus berbenah, mengikuti perubahan jaman yang juga berlangsung sebegitu cepatnya. Di tengah terpaan berbagai masalah sosial, ekonomi, maupun politik yang berujung pangkal pada kegagalan pendidikan, penyelenggaraan proses pendidikan tetap memunculkan inovasinya.
Program pendidikan diploma yang menghasilkan sumber daya siap pakai menjadi senjata ampuh untuk menghadapi persaingan global. Di kancah internasional, program vokasi menjadi andalan berbagai bangsa untuk membangun keberhasilan sistem kerja berbasis keterampilan.
Muara akhir sekaligus tujuan dari keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tinggi adalah terserapnya peserta didik ke pasar tenaga kerja selepas menyelesaikan studinya. Demi menjawab tantangan dunia kerja yang membutuhkan tenaga kerja trampil, tak dapat disangkal lulusan program pendidikan berbasis vokasional sesungguhnya memiliki peluang lebih tinggi serta kesempatan yang lebih luas untuk dapat memenangkan kompetisi tersebut.

C.       Pendidikan Vokasi di Singapore
Singapura adalah salah satu negara macan Asia (di antara Hong Kong, Taiwan, and Korea). Area total yang dimiliki negara ini hanya 692.7 km2, peraiaran: 10 km2, daratan: 682.7 km2 dan populasinya sekitar 4,353,893. Selain Singapore berhasil dalam perekonomiannya, juga sukses mengembangkan pendidikan vokasional. Salah satu institusi yang menjadi kebanggaan dan terkemuka di Singapura adalah Nanyang Polytechnic (NYP).
Pendidikan teknik dan vokasional memperoleh tempat dalam masyarakat. Pendidikan ini merupakan indikator penting bahwa Singapore mengarah pada proses modernisasi. Kemudian, pendidikan bagi orang dewasa merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan Singapore. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas orang-orang dalam masyarakat dan secara langsung akan menumbang pada pengembangan sosio ekonomis penduduk.
Untuk memperoleh guru-guru yang bermutu maka pemerintah mendorong lulusan sekolah menengah yang berbakat untuk memasuki lembaga pendidikan guru. Hal ini juga terdapat perbedaan persepsi dimana kalau di Indonesia, para pelajar, apalagi yang berotak cerdas, kurang terosebsi untuk menjadi guru, kecuali berlomba untuk memperoleh pendidikan di universitas bergengsi di Pulau Jawa.
Guru-guru di Singapura, sekolah dasar dan sekolah menengah, memperoleh pelatihan dan juga pendidikan di universitas, program pasca sarjana dan junior college. Sekolah sekolah sangat memperhatikan kegiatan ekstra kurikuler seperti organisasi murid (osis), event olah raga, study tour, dan sebagainya. Pada sekolah menengah ada mata pelajaran wajib dan mata pelajaran elektif. 
Tentang kurikulum dan metodologi pengajaran di Singapore, berpikir bahwa  pendidik selalu mengembangkan inovasi baru. Maka muncullah kurikulum terintegrasi (integrated curriculum), metode mengajar yag berpusat pada siswa (student centered teaching method), pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu (individualized instruction), dan sekolah alternatif.

D.       Perbandingan Pendidikan Vokasi Antara Indonesia dengan Singapore
Tanpa mengesampingkan arti penting pendidikan liberal, pendidikan vokasi pada umumnya serta khususnya pendidikan vokasi pada tingkat menengah yang disebut dengan pendidikan kejuruan yang memiliki peranan sangat besar,  kemudian dan segi berikut akan dijelaskan mengenai perbedaan pendidikan vokasi negara Indonesia dengan Singapore.
Negara Indonesia masih berada dibawah Singapura yang sudah fokus pada kemampuan perbaikan pendidikan dan teknologi pengembangan generasi tekun. Karakteristik negara ini adalah technology intensive.
Singapura satu-satunya negara yang telah memiliki fokus pengembangan pendidikan baru yang terarah. Singapura menghabiskan uang yang sangat besar untuk membiayai pendidikan di bidang teknologi dan pengetahuan masa depan. Sektor-sektor yang dijadikan konsentrasi hampir semuanya bersifat knowledge intensive. Singapura lebih memungkinkan untuk mengembangkan pendidikan akademik yang berbasis kejuruan serta lebih bermakna dibandingkan Indonesia. Negara Indonesia pada skill intensive menyelenggarakan penguatan pendidikan vokasi khususnya pendidikan kejuruan yang difokuskan pada SMK/MAK, dan training-training singkat pasca SMP lebih tepat dibandingkan memperluas pendidikan SMA.
Di sejumlah negara maju di belahan dunia mana pun, program vokasi merupakan andalan. Artinya, menjadi tumpuan bagi negara itu dalam membangun sistem kerja yang dapat sukses memasuki persaingan global. Dengan program berbasis ketrampilan kerja dan vokasi, banyak negara berhasil membangun ekonomi mereka dan lapangan kerja banyak diisi tenaga-tenaga vokasi berilmu pengetahuan.
Tidak sekadar mengejar gelar, para lulusan SMK hendaknya juga memiliki proyeksi untuk menjadikan dirinya bagian dari sumber daya manusia yang dibekali ketrampilan terspesialisasi. Demi mendukung itu, perguruan tinggi pun dituntut untuk mampu mendasarkan penyusunan kurikulum dan program akademiknya pada perhitungan dan pertimbangan kompetensi kerja lulusan yang benar-benar dibutuhkan oleh pasar kerja dan masyarakat pengguna lulusan secara luas. Tanpa mempertimbangkan semuanya tersebut, pendidikan tinggi jalur vokasional harus dipertanyakan kembali esensi dan substansinya.
Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat kita untuk memajukan pendidikan tidak jauh berbeda dengan kebijakan pendidikan yang dilakukan oleh beberapa negara di atas. Pendidikan kita juga sudah menganut karakter desentralisasi dengan otonomi daerahnya. Kemudian Badan legislatif, yudikatif dan eksekutif pada tingkat provinsi dan kabupaten atau kotamadya juga sudah sangat aktif dalam proses pembuatan keputusan mengenai pendidikan. Pemerintah kita juga mendorong guru guru untuk memperoleh pendidikan dengan program kualifikasi pendidikan yang non sarjana untuk memperoleh pendidikan S.1 (strata sarjana). Memberikan beasiswa bagi bagi sarjana untuk mengikuti program Magister (S.2). Maka berbondong-bondonglah para sarjana untuk mengambil kesempatan emas ini. Namun kemudian puluhan atau ratusan musti Drop-Out, karena terkendala tidak mampu menulis atau menyelesaikan tesis. Sebagian kecil bisa selesai lewat jalur non halal, menjiplak tesis, mendatangi jasa teman, atau jasa biro tesis kalau tidak bisa harus puas dan bernostalgia ”karena pernah kuliah pada program S.2”. Penyebab gagalnya ratusan mahasiswa pascasarjana dalam menyelesaikan tesis (atau juga disertasi bagi mahasiswa post-graduate) karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca dan budaya menulis. Itu akibat tidak ada budaya belajar mandiri dan berfikir kreatif serta inovatif.
Kurikulum pendidikan kita yang populer akhir-akhir ini adalah seperti KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kedua bentuk kurikulum kita mungkin sudah sama efektifnya dengan kurikulum terintegrasi (integrated curriculum), metode mengajar yag berpusat pada siswa (student centered teaching method), pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu (individualized instruction), dan sekolah alternatif yang dianut oleh negara-negara maju.
Bedanya mungkin terletak pada bagaimana masyarakat menghargai lembaga pendidikan tingkah menengah. Kira-kira 20 tahun lalu, masyarakat mengenal jenis-jenis sekolah seperti ’SPG (Sekolah Pendidikan Guru), STM (Sekolah Teknologi), SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Ini semua adalah beberapa bentuk dari sekolah vokasional atau kejuruan yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia dan ada beberapa jenis vokasional yang lain. Kemudian sistem persekolah disederhanakan maka ada sekolah SMA dan SMK (untuk sekolah Vokasional/kejuruan). Entah bagaimana kebijakan yang dilakukan maka sekolah SMA telah menjadi begitu populer dan begitu banyak masyarakat yang mengirim anak-anak mereka ke sekolah SMK.
Barangkali hal itu akibat di negeri ini terlalu menjamur sekolah SMA, tiap kecamatan selalu ada SMA, sementara untuk SMK mungkin hanya dihitung per kabupaten. Sebaliknya kalau di negara negara maju di Eropa, Asia dan Amerika yang banyak betebaran adalah sekolah kejuruan. Maka sekolah vokasional, teknik dan bisnis sangat memperoleh apresiasi dalam masyarakat. Kemudian bagaimana dengan pendidikan untuk orang dewasa kalau di negara maju banyak orang dewasa yang mendaftarkan diri pada adult education.
Metode pengajaran di negara maju berkarakter ”child centered, continous progress, team teaching, discovery method, open plan school. Metode pengajaran yang yang popular di Indonesia adalah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), namun sering diplesetkan menjadi “Catat buku sampai habis”. Plesetan ini terjadi karena memang demikianlah kenyataan suasana mengajar pada sekolah sekolah yang jarang terpantau oleh team penilai. Atau kalau pun banyak guru yang sudah mengetahui tentang teknik-teknik pengajaran maka lagi-lagi teknik mengajar konvensional lebih terasa manis bagi mereka.
Kalau demikian kita masih mempunyai banyak pekerjaan rumah untuk membenahi kesemrawutan pendidikan di bumi Indonesia ini. Yang kita perlukan untuk maju dan memajukan pendidikan kita adalah tekad dan keseriusan kita sepanjang waktu.



Indonesia
singapura

·         pendidik hanya mengacu pada kurikulum yang ada tanpa ada pengembangan kurikulum yang terintegrasi.

·         kalau di Indonesia, para pelajar kurang terosebsi untuk menjadi guru, kecuali berlomba untuk memperoleh pendidikan di universitas bergengsi di Pulau Jawa.
·         Metode pengajaran yang yang popular di Indonesia adalah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), namun sering diplesetkan menjadi “Catat buku sampai habis”.
·         pendidik selalu mengembangkan inovasi baru dan  muncullah kurikulum yang terintegrasi, untuk sistem mengajar yang berpusat pada siswa.
·         Untuk memperoleh guru-guru yang bermutu maka pemerintah mendorong lulusan sekolah menengah yang berbakat untuk memasuki lembaga pendidikan guru.
·         Metode pengajaran di negara maju berkarakter ”child centered, continous progress, team teaching, discovery method, open plan school. (“Berpusat pada anak didik, kemajuan terus menerus, pengajaran tim, metode penemuan, sekolah yang terbuka.”)



PENUTUP

Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia yang diandalkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) ternyata belum sempurna. Masih banyak kelemahan yang menjangkiti sistem pendidikan.
Oleh karena itu perubahan terhadap sistem pendidikan perlu untuk dilakukan. Perubahan yang dilakukan harus memperhatikan berbagai elemen yang dapat membuat kebijakan tersebut agar tidak gagal. Sistem pendidikan yang handal akan menyiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk menghadapi kompetisi global yang semakin hari semakin kompetitif. Setelah mengalami sistem pendidikan di berbagai negara dan melihat sistem pendidikan di Indonesia, ada sejumlah masalah yang dihadapi. Sistem pendidikan yang berlaku selama ini di Indonesia ternyata tidak dapat menempa sumber daya manusia Indonesia yang memiliki potensi yang tidak kalah dibanding dengan sumber daya manusia dari negara lain, termasuk negara maju sekalipun.
Potensi yang ada pada sumber daya manusia, tidak akan mempunyai arti yang signifikan dan maksimal bila penempaan atas mereka melalui sistem pendidikan tidak dilakukan secara benar.
Dapat kita simpulkan bahwa Perbandingan sistem pendidikan di Singapura dengan Indonesia sepertinya bagai bumi dan langit. Departemen Pendidikan Singapura (Ministry of Education) tampaknya lebih banyak bekerja dan memberi perhatian besar pada pengembangan pendidikan ketimbang memanfaatkan pendidikan. Melalui peran generasi muda diharapkan ada satu visi untuk melakukan pembenahan dan pengawalan terhadap sistem pendidikan Indonesia.




Daftar Pustaka

_________. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_vokasi. (diakses tanggal 24-03-2011)
_________. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia. (diakses tanggal 24-03-2011)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar